Tangga Batu dan Kembang Ceri
Januari 12, 2009
emilputra
ini lagu satu puisi. best wo! he he
Tangga Batu dan Kembang Ceri
Gumpalan salji terakhir mengucapkan selamat
deru angin utara mohon permisi
tangga-tangga batu yang menggigil
di bawah pohon kembang ceri
tidak sabar-sabar menanti.
Kudup-kudup yang ralit bermimpi
apabila angin musim bunga datang
satu-satu akan bangkit, tersenyum, menguntum
kelopak putih ribu-ribu
kembang ceri halus sebanding awan
lembut sebanding salji
kayangan turun ke langit bumi
tangga-tangga batu kuyup oleh salji cair dan embun pagi
tidak sabar menanti.
Kuntum-kuntum yang tersipu malu
bergurau dengan burung dan matahari, sehari
dua hari, sampai tujuh hari
dalam semusim yang panjang, inilah satu-satunya waktu
tangga-tangga batu memandang bisu,
terlalu jauh dan tinggi
tetap sabar menanti.
Kembang ceri akan dipetik bayu
luruh satu, satu, satu
tangga-tangga batu akan merenung lagi
antara sayu dan rindu
antara pilu dan mahu
takahnya yang penuh debu
tiba-tiba akan jadi mewah
didakap permaidani putih lapis demi lapis
mengalas kaki yang melangkah,
dan lambung yang singgah
untuk waktu yang terlalu sebentar
sebelum berderai dimamah tanah.
Tangga-tangga yang diukir pada batu
hanya dapat mengelus lembut kembang ceri
mencium harum kayangan di bumi
setelah kelopak-kelopak cintanya mati.
“Teruskan bermimpi, kudup kembang ceri
kita sama-sama teruskan bermimpi
angin utara tinggallah di sini
aku rela menggigil dalam musim salji yang abadi
asalkan kelopak kembang ceri tidak perlu menguntum dan tidak perlu mati
cuma untuk pertemuan yang sesaat
sebelum sepi menanti semusim berlalu lagi.”
adibah abdullah
thorncliffe 17, F
1.04 a.m. 8 okt 2008
Entry Filed under: Puisi Pilihan
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed