Archive for Mac 11th, 2008
Warna
seorang teman menunjukkansekeping kertas
tidak ada apa-apa yang tertulis di atas kertas ituyang ada hanyalah garisan-garisan hitamdi atas sekeping kertas putihyang kosongkatanya: “itulah makna persahabatan”dan katanya lagi: “jangan lihat pada kertas itu,tapi lihatlah pada warnanya”aku tidak dapat memahami diaadakah hitam dan putih itu(masih) merupakansatu bentuk warna?begini kisahnya:ketika kaumelihat ke jendelapagi yang murnimatamu menangkap serpihan awanmerah, kuning, jingga, biru, hijau dan unggumenjadi satubangkit bersama-samanya sinar harapan.perlahan-perlahan sinar itu menjadi semakin cerahdi tengah haritapi tidakkah kausedarwarnanya semakin pudardi sebalik kilauan yang kian menyengat?kemudianhari yang berwarna-warni kian menjadi gelaphati tertanya adakah sinar harapan(kian) hilang ditelan kegelapan.kata merekatanpa warnakamu tidak bisa melihat(padahal sesetengah dari merekatidak bisa melihatgabungan hitam dan putihdan sesetengah yang lain pulatidak bisa melihat hitam dan putihsebagai warna yang asing).namun di sebalik kehitaman(yang kian suram itu)terpancar kedamaianyang terselit di celahan awanyang tidak kelihatan warnanya(seperti airyang mengalir dingintanpa warna).seperti itu apabila hati tidak dipenuhiwarnamanusia tidak bisa melihat juga.pernahkah kau terfikirbagaimana Dia menjadikancahaya putih itu terdiri dari pelbagai warnadan apabila kaucampurkan pelbagai warnadalam adunan kanvasmuia akan menjadi hitam?tidakkah kamu merasa tertipudengan warna yang kaulihat?itu bukanlah warna yang diserapbegitulah Tuhan mengajar manusiatentang permainan duniawijangan kau (ter)biasa melihat warnatetapi lihatlahketulusan, kujujuran dan keindahanyang tidak kelihatan di sebaliknya.teman, kaumengajarku tentang warnalalu mewarnakan kanvasmumengikut gerak tari jari-jemarimukaumelukiskan lukisan yang tidak kelihatandalam hamparan hidupkudan menggubah nada-nada harimenjadi lengang-lenggokbicara yang indahwalau tanpa suara.(katanya lagi:“tidak banyak yang dapat kuceritakantentang warnadi atas kertas ini(ia) hanyalah sekeping kertas yangberwarna putihtetapi lihatlah warna-warni di dalamnyadengan mata hati”).warna dalah inspirasiwarna adalah aspirasihubungan yang tidak bernamadi atas citra cita dan cintakehidupan.khairul azhar,11 mei 2007.
Add comment Mac 11, 2008
Di Sebalik (Bicara Mimpi)
(Di Sebalik) Bicara Mimpi…
Bisakah kau bermimpi
Malam (yang/nan) indah
(dan) menganyam lena
(di) peraduan yang basah?
Mimpi mendakap bintang
Dan meramas awan
yang tersulam
menjadi permaidani ungu
Gurindam tidur malammu
Bertaut antara dua syurga
Mengintai antara dua hijab dunia
Mimpi bisa membutakan neraka menjadi syurga
Atau sekelip mata bertukar neraka
Dahannya rapuh
Denai-denainya melepuh
Telah kau labuhkan sauh
Memacak sayap-sayap mimpi malammu
Namun terusan ini tidak selamanya mengalir
ke jalan (yang) tentu
dan terukir di dada nyanyian-nyanyian rindumu
adakalanya bahtera ini pecah di persimpangan
atau relai di muara kebuntuan
atau berderai di bedungan kegelapan.
Kadangkala mimpi ini langsung tidak membenarkan aku menyentuhnya
Dan meninggalkan aku tanpa teman di alam lenaku
Mimpi mengusir pulang
Memijak realiti
Dan perjalanan panjang
Bila kan terhenti
Esok bertandang lagi
Ke alam mimpi
Lalu pulang kembali
Selagi belum bersua
Cinta yang dicari…
Sejauh mana kebenaran mimpi
Hanya Dia yang mengerti
Aku berharap mimpi ini bakal mempertemukan aku dan Dia
Yang selalu kuseru dalam perbaringanku…
Add comment Mac 11, 2008
Pengemis Mimpi
Pengemis Mimpi…
Bisakah kau bermimpi
malam nan indah
tanpa menganyam sepi di peraduan yang basah?
Mimpi mendakap bintang
dan meramas awan yang tersulam
menjadi permaidani ungu
menjadi gaun
gurindam tidur malammu.
Bertaut antara dua syurga,
mengintai antara dua hijab dunia.
Mimpi bisa membutakan neraka menjadi syurga
atau sekelip mata bertukar neraka.
Tidak selamanya tiupan seruling
berlagu mengirai sayap-sayap,
kejap terukir di dada nyanyian-nyanyian rindu
dedaian dahan denai mimpi malammu.
Kadangkala mimpi ini sendiri langsung tidak membenarkan aku menyentuhnya
dan meninggalkan aku mengemis dalam lenaku.
Kali ini;
Mimpi mengusir pulang
memijak realiti.
Dan perjalanan panjang
bila kan terhenti.
Esok bertandang lagi
ke alam mimpi
lalu pulang kembali
selagi belum bersua
cinta yang dicari…
(Julai/Ogos 2006)
1 comment Mac 11, 2008
Bulan
Bulan(dengan apologi kepada xxxxxx menjelang ulang tahun kelahirannya yang ke-18)
Bulan itu masih ada
Cuma jauh di ufuk langit
terlindung oleh gumpalan awan sarat
hitam berbirat.
Tercapaikah tanganku
pada wajah bulan itu?
Yang kuidamkan suluhan cahaya perindu
yang menusuk sembilu pada sejuta kenangan
di dalam kalbu tersimpan.
Aku mendambakan sinar rembulan
yang seakan-akan jemu pada diriku
merajuk denganku
mungkin kerana dosa-dosa silamku
dia membisu.
Aku berlari mendekati bulan
sedangkan dia makin jauh
Langkahku yang pincang
tersasar
dipukul angin malam
yang kencang.
Bulan dan kecerahan
Cahaya matahari yang memantulkan
kerdipan kilauan
sehingga dia lupa pada diriku
yang pernah menyerikan
hidupnya dahulu.
Dia menyorok dariku
siang dan malam.
Aku hanyalah insan kerdil
Menunggu
Dan terus menunggu
kemunculan bulan
gemilang perkasa.
Sedangkan bulan itu milik mentari
pada waktu siang
milik embun
pada waktu malam…
MRSM Taiping,
12 Januari 2004.
Add comment Mac 11, 2008
Lembaran
Lembaran
(khusus buat semua guru-guruku)
Berkas lembaran kertas ini
terhampar carikan alur-alur
yang bersimpang-siur
dan berkarikatur
dilencuni titik-titik yang tidak bernokhtah.
Hanya garisan yang menjadi pelengkap
pada titik-titik yang tertancap
merangkai pada tindihan yang berpautan
pada kekisi suatu nur.
Dengan nur sebagai pelarik
lembaran sebuah kisah
yang tidak berpenyudah
Tegak menyongsangi hikayat yang berseliratkan azimat!
Hanya garisan yang menjadi pemisah
pada titik-titik yang terbelah
tatkala aruhan nur terbelau
dan kekisi melampaui kabut kegelapan suram.
Biarkan hari malam
Tiang dan langit masih jitu
dalam sandaranku….
Add comment Mac 11, 2008
Butterflies’ Voice
Butterflies’ Voice
(Written by DanialAlfie Putra after the death of his beloved mother, in the memory of Puteri)
As the graceful butterflies
perching against the roses,
its pattern glimmers
among glittering dews,
attracting the witness of senses,
significantly reflecting the drizzling miracles.
Viewing instinctively,
the fascinating butterflies
are hiding between the redness and the darkness.
Gloomy appearance surrounding butterflies
is veiled by looks,
their tears fall,
screaming silently.
Fairs and beauties splash
during the little little crash,
dancing assiduously,
with flashing movements,
and the glare shoots to decorate the meet.
Metamorphosis best describes
a minute of journey,
It is like a halt,
A port to the new journey,
which stands
forever.
Add comment Mac 11, 2008
Tinggal Lagi Transkripsi
…Tinggal Lagi Transkripsi
Sebuah lagi transkripsi tersisih dari persisiran Sungai Pahang
Terpahat prasasti 1957
Musim sesudah teduhan lembayung tengkujuh
Larut 1511 semalam.
Letaknya hanya alas tempat basuhan kaki
Segar air basuhan daki
Lumpur-lumpur lintah seberang
Kikisan manusia balar
Yang menjunjung mahkota Sultan Mahmud Syah
Pelarian dari Melaka
Tetamu tak diundang
Hinggap di takhta
Datang tak berjemput
Mudik tak berhujung
Diam tak berpulang
Telah ratusan tahun
Ditimang ombak Laut China Selatan
Terpacaklah tukun itu menjadi batu nisan
di muzium-muzium
tanpa kuburannya.
Tiap titipan aksara
Tiada siapa yang dapat memahaminya
Kerana batu ini hanya sempadan penanda
Manifestasi perskripsi agung
Karangan temenggung
Bukanlah sesiapa…
Panggillah archaeologist di serata dunia
adakan persidangan forum
adakan press conference
adakan galeri pameran interpretasi appresiasi
situ sini sana
kalau sudah tidak ada tangkai setia
usah dikaluti usah diributi
pasir-pasir yang kian terkakis
dari lapis-lapis kasar
tunggul tidak bernama
lambat-laun akan luput pasti
kerana kesetiaan itu denyutnya.
Mungkinkah ukiran penanda ini
Telah tertakdir sebagai sekadar manuskrip
Tidak bernyawa
Rebutan pencinta antik
tanpa nokhtah?
Bakalkah mengukir sehalus rasa
Di benak
Di minda
Penggali khazanah warisan bangsa?
Jangan lagi biar ia tinggal transkripsi
Kerana tanpanya
Nadi tak dapat lagi bernyanyi
Seperti selalunya…
Dr. Khairul,
Tahun-tahun sesudah merdeka
3.00-4.40 p.m.
8 Ogos 2006.
Add comment Mac 11, 2008
Always
Always
(For the sorrowful, nostalgic memories shared between me and my friends)
Again,
The phantom is invisible,
but its apparition is available,
For a sight only the heart is able.
Listening to the soundless songs,
indifferently,
it acts just as a glass containing water,
You can touch and feel it without its colour
And the missing is always deeper,
Although the appearance lasts longer.
Whewing why,
I cannot feel the warm touch and kisses,
The smiles are only exposures
beneath the true lies of nostalgic phrases,
we, both, always share
the meaningless circumstances.
All necessaries to tight less,
the bow itself
to climb upstairs
to the sky of ice
are always brief
like the epilogue of dreams.
Yonder reveries,
Their endings
are always disappointing.
Since the finale visits,
the word-always,
always haunting my life,
On how it always begins
and the fact how painful it is breaking
are always mysterious behind the scenes…………
Add comment Mac 11, 2008
Sepasang Selipar Jepun
Sepasang Selipar Jepun
Sepasang selipar jepun
Aku beli di pekan Banting
Sedap di kaki
Murah
Harganya cuma lima ringgit.
Sepasang selipar jepun
Standardnya hanya di kaki
Pakainya hanya ke tandas
Hanya ke bilik mandi.
Sepasang selipar jepun
Satu hari selipar jepun hilang
Aku lari bercempera mencari
“Ke mana selipar jepun?”
walau aku mampu beli
sepuluh selipar jepun yang baru
bagaimana akan aku ke tandas
atau ke bilik mandi
tanpa selipar jepun itu?
Sepasang selipar jepun
Hilangnya
Tidak lagi kupeduli
Kini berganti baru
“Jauh lebih mahal”
dan “tinggi kualitinya”.
Sepasang selipar jepun
“yang cantik”
satu hari tertukar
dengan selipar jepun koyak
botak
“yang jauh lebih cantik”.
Sepasang selipar jepun
Mengajar aku erti ihsan dan simpati
Kepada diri sendiri
(dan kepada mereka yang mencurinya).
Sepasang selipar jepun
Memberi gambaran bagaimana akan
Aku berkaki ayam
Tanpa “dirinya”
Sepasang selipar jepun.
Sepasang selipar jepun
Mengheret langkah songsang
Menemani perjalanan pulang
Ke tanah gersang.
“Sepasang selipar jepun
(bagaimana akan) aku
persembahkan
(selipar jepun yang koyak dan botak)
sebagai hadiah
setibanya nanti?”
Anak-anak Putra,
Dewan Besar,
Kolej MARA Banting,
13 Januari 2007.
Add comment Mac 11, 2008